Ritual Puasa Untuk Buang Sial Cara Islam

buka mata batin mandiri

Dalam kehidupan ini, kita sering mengalami pasang surut. Keberuntungan hidup adalah hal yang misterius. Bak kupu-kupu yang terbang ketika dikejar dan justru hinggap pada saat kita diam tak mengejarnya. Menurut orang bijak, rezeki tak dapat diburu, melainkan manusialah yang diburu rezeki.

Keberhasilan hidup ditentukan oleh sebab-sebab yang amat kompleks. Ada orang kaya karena sifat licik dan bakhilnya, ada pula yang kaya karena kejujuran dan kedermawannya. Terlepas dari urusan takdir, keberhasilan lebih berpihak pada orang yang didekati keberuntungan dan dijauhi kesialan.

Oleh  karena itu, orang yang merasa dirinya kurang beruntung, berupaya menempuh berbagai cara, termasuk melakukan ikhtiar batin. Sebagai contoh, berdoa, berpuasa, dan melakukan ruwatan yang diyakini mampu menghilangkan kesialannya.

Menghilangkan kesialan hidup dan mengundang keberuntungan harus dilakukan dengan sesuatu hal yang diyakini. Orang Jawa menghilangkan energi negatif atau kesialan, sukerta, dan sengkala dengan menyelenggarakan pagelaran wayang kulit dan memotong rambut.

Sementara itu, para santri lebih yakin dengan puasa, berdoa, dan bersedekah. Bahkan, dalam upaya membuang sial dan meraih keberuntungan itu, ada orang yang memilih mengubah posisi rumah atau kantor.

tasbih-karomah

Cara Buang Sial Dengan Puasa

Cara membuang sial dengan puasa, di antaranya dilakukan dengan puasa sunah Senin-Kamis atau puasa pada pertengahan bulan, tanggal12, 13, dan 14 berdasarkan kalender Qamariyah. Puasa Senin-Kamis lebih berat dilakukan karena dalam satu bulan berarti puasa sembilan hari.

Pada pertengahan bulan, puasa yang dilakukan lebih ringan karena hanya puasa tiga hari. Hal itu sebanding dengan puasa apit weton. Sementara itu, yang paling ringan adalah puasa weton karena hanya puasa sehari dalam 36 hari.

Para leluhur kita sering menasihati anak cucunya untuk tetap bertahan dengan laku prihatin. Mereka yakin, dengan hal itu, seseorang akan ditempatkan oleh Tuhan pada tempat yang terpuji. Tradisi berpuasa adalah tradisi semua makhluk.Sebagai contoh, ulat yang tampak menjijikkan melakukan tapa dalam bentuk kepompong ketika ingin mengubah nasibnya menjadi kupu-kupu.

Ulat yang semula berjalan merangkak, gatal, menjijikkan, bahkan hanya makan dedaunan. Setelah derajatnya diangkat menjadi kupu-kupu, indah bentuknya, dapat terbang tinggi, makanannya pun jadi sari bunga yang tentunya lebih lezat. Semua hal itu terjadi setelah ulat menyelesaikan puasanya.

Nah, manusia yang ingin mengubah nasibnya, dari semula di bawah menjadi melambungkan diri dan terbang tinggi, dari yang semula makan daun berubah makan yang lebih lezat, dari yang semula orang takut (jijik) saat memandangnya menjadi yang senang, tentunya hendaklah rajin berpuasa.

KONSULTASI SILAHKAN HUBUNGI KAMI